Nak, ini sepenggal kisah kehidupan teman bapak.
Dulu keluarga mereka sangat bahagia. Sebelum kelahiran anak pertama mereka yang bernama Anggun. Dulu sebelum Anggun lahir, mereka adalah keluarga sederhana yang bermandikan berbagai macam kebahagian. Semua dilakukan dengan bersama-sama. Kerja sama mereka pun tergolong sangat kompak. Si suami rela kerja keras dan istri begitu setia menunggu suami pulang. Walaupun si istri seharian mengurusi rumah seorang diri, dia masih mampu melayani dan menyambut suami pulang. Sungguh perempuan luar biasa. Si suami pun tau kalau sang istri begitu sangat lelah. Tak jarang si suami menyuruh sang istri untuk istirahat dan tidak melayaninya bak sang raja. Cukup hidangkan air putih segelas saja.
Kebahagian mereka bertambah setelah lahirnya anak pertama mereka yang diberi nama Anggun. Paras anak itu sesuai dengan namanya. Masalah pun muncul setelah 5 (lima) tahun kelahiran Anggun. Berawal dari tawaran kerja sebagai konsultan dari Melati, teman sang istri. Memang sebelum sang istri menerima tawaran sebagai konsultan, dia juga mengkonsultasikan dan meminta ijin kepada si suami. Dan dengan alasan serta kesepakatan antara si suami dan sang istri, akhirnya si suami mengijinkan. Yah, sang istri mensepakati bahwa ketika sudah bekerja, dia masih bersedia menyiapkan sarapan untuk si kecil, Anggun. Serta tetap memprioritaskan si buah hati satu-satunya itu. Keluarga harus tetap prioritas utama.
Inilah hari pertama sang istri bekerja, sebelum bekerja dia sudah menyiapkan sega keperluan Anggun sekolah. Dari mulai sarapan, pakaian, tas, buku, sampai dengan bekal. Semuanya sudah tersedia, sama seperti sang istri sebelum bekerja. Tapi hal itu hanya bertahan selama 1 (satu) minggu saja. Di minggu selanjutnya, sang istri hanya menuliskan sebuah memo kecil untuk buah hatinya. Memo itu bertuliskan “Nak, nanti sarapan kamu beli aja di warung depan. Uangnya sudah bunda bayarkan untuk 1 minggu. Tolong ajak papah mu juga ya, Nak. Maaf, bunda tidak bisa menyiapkan sarapan untukmu. Hanya untuk hari ini saja”. Sang anak pun bisa memakluminya, walaupun agak sedikit gondok terhadap sikap bundanya. Tapi si suami pandai menjelaskan ke sang anak kenapa ibunya seperti itu.
Dan ternyata memo itu tidak Cuma untuk hari ini saja.
“Pah, ini adalah memo ke tujuh dari bunda”, ujar si anak.
Artinya sudah tujuh hari bundanya tidak menyiapkan sarapan untuk Anggun. Lama kelamaan Anggun mulai kesal terhadap sikap bundanya. Dan meminta papahnya untuk menegur bundanya.
Teguran si Suami memang didengar oleh sang Istri. Tapi hanya bertahan untuk 3 (tiga) hari saja. Anggun pun semakin kesal terhadap sikap bundanya. Akhirnya dia bertanya langsung kepada bundanya.
“ Bun, kenapa seh sekarang-sekarang bunda ga mau masakin sarapan untuk Anggun? Bunda ga sayang lagi ya sama anggun? “ Tanya Anggun.
“ Tidak sayang, Bunda sayang kok sama Anggun” Jawab sang bunda
“ Tapi kenapa kemarin bunda tidak dateng untuk mengambil raport Anggun, temen-temen semua dianter oleh kedua orang tuanya. Tapi anggun Cuma dianter oleh papah saja” , kata Anggun.
“ iya, maaf nak. Bukan bunda tidak mau datang. Tapi bunda harus menemui klien. Karena kalau tugas bunda sukses menangani klien ini, bunda bakal dapet uang banyak. Dan apa pun yang Anggun mau, bunda pasti beliin”, jelas bunda.
“ owh, kalau begitu bunda sibuk kerja, sampai tidak sempat nyiapin sarapan dan mengambilkan raport, itu gara-gara bunda nyari uang ya?” Tanya Anggun.
“ Iya sayang” jawab Bunda.
“ owkay deh kalo begitu”, kata anggun sambil berlalu pergi.
Seminggu kemudian, Anggun sakit panas. Dia mengigau dan memanggil bundanya. Dan terus memanggil nama bundanya. Tapi bundanya tak kunjung datang. Karena dia sedang berada di luar kota untuk menyelesaikan urusan yang sangat penting. Walaupun sang Bunda ingin pulang, tapi dia tidak bisa karena masalah kerjaan.
Akhirnya, Anggun pun dirawat di rumah sakit, karena panasnya begitu tinggi. Keesokannya Anggun tidak sadarkan diri. Mendengar berita tersebut, sang bunda memutuskan untuk pulang dan meninggalkan pekerjaannya.
Kini si suami dan sang istri menunggu bersama buah hatinya di rumah sakit. Ini adalah hari ketiga Anggun tak sadarkan diri.
Hari keempat Anggun mulai sadar, hari kelima dia mulai membaik. Dan dia kaget melihat sosok perempuan yang seperti dia kenal. Yah, benar dia adalah bunda.
Setelah keadaan Anggun membaik, sang bunda mengajak ngobrol dan meminta maaf. Di tengah-tengah obrolan mereka. anggun berkata kepada ibunya.
“ Maaf bunda, aku tidak bisa membayar bunda untuk menemani aku di sini. Karena tabunganku sudah habis untuk membayar perawatanku di sini” ujar Anggun dengan lugu.
Mendengar hal tersebut, sang bunda langsung meneteskan air matanya dan memeluk sang anak. Tapi sang anak menolak dipeluk oleh sang bunda.
Dengan berat hati sang bunda keluar dari ruangan dan menghampiri suaminya sambil meneteskan air matanya.
“ ada apa? Kenapa kamu menangis? ” Tanya si suami.
“ anak kita berkata : Maaf bunda, aku tidak bisa membayar bunda untuk menemani aku di sini. Karena tabunganku sudah habis untuk membayar perawatanku di sini”.
“ maafkan aku sayang, karena aku, kau telah kehilangan perhatian, kasih sayang, dan cinta dari anak kita” kata si suami.
“ kenapa kamu yang minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf” kata sang istri
“ nggak sayang, seharusnya aku. Karena aku hanya bisa membawa kalian dalam kehidupan yang sederhana. Karena aku telah mengijinkan kamu untuk bekerja di luar sana”. Jelas sang suami.
“ iya sayang, aku sadar. Ternyata yang kita butuhkan bukanlah sekedar materi. Dulu, walaupun kita hidup sederhana, kita masih bisa bahagia. Sedangkan sekarang, aku merasakan kehilangan kamu dan Anggun. Kalian adalah kebahagianku. Materi bisa diperoleh dari mana saja, sedangakan kasih sayang tidak dari sembarangan orang” jelas sang Istri.
Dan sampai akhirnya, sang istri memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun tetap menjalankan usaha di rumahnya. Dan terus menerus berusaha menggatikan waktunya yang hilang bersama Anggun dan suaminya. Meskipun dia tau, kalau waktu itu selamanya tak kan bisa tergantikan, karena sudah berlalu.
- Materi dapat diperoleh dari siapa pun, tapi tidak dengan kasih sayang -
created by uQi...