Thursday, July 24, 2014

INI KISAHKU LAGI


Ini kisahku lagi.

Saat itu adalah hari jumat, dimana setiap umat muslim (khusus pria) wajib mengerjakan Shalat Jumat. Saat akan pergi ke masjid, aku berfikir berapa jumlah yang harus aku shodaqoh kan di masjid tersebut. Akhirnya aku tetapkan akan men-Shodaqoh-kan uangku sebanyak Rp. 5000 (lima ribu rupiah). Namun setelah sampai masjid, dan kotak amal sudah di depan mata, dompet sudah keluar dari kantong. Tiba-tiba ada bisikan dari syaitan yang menyuruh aku untuk tidak mengeluarkan uang Rp 5000 (lima ribu rupiah) tersebut dan menggantinya dengan uang Rp. 1000 (seribu rupiah). Dan aku sempat bimbang dengan bisikan tersebut. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk tetap men-Shodaqoh-kan uang sebesar Rp 5000 (lima ribu rupiah). Dengan mengucap “Bismillahirrahmannirrohim” aku memasukan uang tersebut ke dalam kotak amal.

Setelah sholat Jumat selesai, aku segera kembali ke kantor dan bersiap untuk bersantap makan siang. Namun, sebelum aku memesan makan siang, tiba-tiba dari arah depan terdengar suara memanggil aku. Akhirnya aku dekati suara tersebut, ternyata rekan kerja aku yang memanggil. Dia menawarkan aku untuk makan bakso bersama. Akhirnya aku memesan 1 mangkok bakso. 

Dan terlintas dalam pikiranku ternyata Allah langsung membalas apa yang telah aku Shodaqoh-kan tadi. Dipikir secara loika  harga 1 (satu) mangkok bakso tersebut mungkin nominalnya setara dengan uang yang akau shodaqohkan tadi.

Pelajaran dari kejadian ini adalah ketika kita memberi dengan ikhlas dan tanpa keraguan, Allah akan membalas semuanya itu. Dan itu terjadi dalam kisahku. Perut kenyang amal pun (insya Allah) diperoleh.

Friday, July 18, 2014

DENDAM POSITIF

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari airuntuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur" Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF"Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.

Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu"Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. "Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak.

Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukah Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi. Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Itulah kekuatan "DENDAM POSITIF" Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif."

(Sumber: buku Dendam Positif karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia
dalam http://kisah-renungan.blogspot.com)

Thursday, July 17, 2014

DIBALIK SURAT AL FATIHAH


Ini adalah pengalaman Saya di tempat kerja baru. Suatu hari aku diminta untuk dinas ke luar kota (Solo). Saat itu saya berangkat terpisah dengan rombongan, dikarenakan masih ada pekerjaan yang mesti saya kerjakan di Kantor. Akhirnya  saya memilih berangkat untuk naik Bis Handoyo. Sebelum berangkat sebenarnya ada sedikit keraguan. Ragu apakah saya bisa mencapai ke tempat penginapan, karena saya tidak tahu rute dari tempat saya turun ke penginapan, tidak ada yang bisa menjemput saya, dan terakhir sampai Solo pasti Malam hari (01:00). Karena itu tugas kantor jadi saya mau tidak mau mesti berangkat ke Solo. Sebelum naik ke Bis, dalam hati aku berkata “Bismillahirohmanirrohim”. Dan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba – Nya.

Setelah saya duduk, saya teringat tentang tulisan di web milik salah satu rekan kerja. Tulisan tersebut berisi tentang bagaimana manfaat surat Al Fatihah itu mampu mendatangkan kemudahan. Akhirnya Saya coba praktikan sendiri. Dengan rasa kesungguhan dan percaya bahwa Allah itu selalu berada dimana-mana dan akan selalu menolong hamba-Nya. Saya membaca surat Al- Fatihah itu terus menerus sampai tertidur lelap.
Akhirnya Bis tersebut berhenti di Terminal Tegal, Saya pun terbangun. Tepat dari tempat duduk paling belakang ada seorang bapak-bapak gemuk bertanya kepada saya.
“ Mau kemana mas? “ Tanya Bapak itu
“ Mau ke Solo pak “ Jawab Saya
“ Sama, saya juga mau ke Solo. Solonya dimana mas? “ Lanjut Tanya Bapak itu
“ Sebenernya saya ke Solo ada tugas dari kantor pak. Saya nginep di daerah Daleman Pak” Jawab Saya
“ Owya pak, mau Tanya kalau mau kea rah Daleman itu lebih deket dari Kerten atau Terminal Tirtonadi ya? “ Tanya Saya.
“ Kalau mau deket ya dari Kerten, Mas “ Jawab Bapak itu
“ Ya sudah nanti kamu turun bareng saya saja di Kerten nanti tak carikan taksi buat kea rah Daleman ” Kata Bapak itu
“ Owya, terima kasih Pak ” Kata Saya

Akhirnya sampai juga di daerah Kerten. Aku diminta oleh bapak itu untuk menunggu jemputan anaknya. Tak lama berselang anak bapak itu datang mengendarai mobil. Lalu bapak itu menuju mobil tersebut dan membukan pintu tengah. Si Bapak itu masuk ke mobil, saya pun turut mengikutinya. Di dalam mobil saya diperkenalkan dengan anaknya. Si Bapak itu meminta anaknya untuk jalan pulang sembari mencari taksi. Akhirnya kita menepi di sisi jalan dan menghampiri supir taksi yang sedang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
“ Pak, tolong antarkan adik saya ke Hotel di daerah Daleman “ kata bapak itu
Saya pun masuk kedalam taksi tersebut, tapi sebelumnya saya berucap terima kasih kepada bapak itu. Akhirnya sampailah di depan gerbang hotel. Ongkos taksipun tak terhitung mahal, hanya Rp. 25.000 (plus tips untuk supir). Setelah masuk ke hotel dan ditunjukan kamar mana yang sudah dipesan oleh Perusahaan, aku langsung mengetuk pntu kamar tersebut. Dan hanya sekali ketuk saja pintu tersebut sudah terbuka. Ternyata yang didalam adalah rekan kerja saya yang baru terbangun dan baru saja sedang menyaksikan pertandingan sepak bola.

Memang benar, pertolongan Allah itu berada dimana-mana dan dari arah yang tak pernah disangka-sangka. Ketika kita menghadapi kesusahan janganlah berkecil hati, karena di dalam kesusahan Allah selalu menyipakan banyak jalan keluarnya. Yang terpenting adalah kita Sungguh dan Percaya bahwa Allah pasti akan menolong hamba-Nya.

MEMPERTANYAKAN NASIHAT BAIK

Pengalaman ini terjadi saat saya menjadi seorang guru bimbingan konseling di salah satu SMK di Kabupaten Cirebon. Saat itu segerombolan siswa dari Jurusan Farmasi datang mengampiri ruangan saya. Entah mulai darimana, tiba-tiba ada seorang anak yang bertanya kepada saya.
“ Pak, Belajar itu penting atau nggak sih?” Tanya si Siswa
“ Kalau kata orang tua dan bapak Belajar  itu penting” Jawab Saya
“Tapi Pak” Sahut si Siswa
“ Tapi kenapa?” Tanya Saya
“ Aku setiap hari belajar, tapi kok setiap ulangan nilainnya selalu pas-pasan” Jawab si Siswa
“ Mungkin cara belajar Kamu yang salah” ucap Saya
“ Kalau begitu menurut kamu penting tidak belajar itu?” Lanjut  Saya
“ Gak Tau Pak” Jawab si Siswa
“ Mau tau jawabannya?” Tanya Saya
“Iya Pak” Jawab si Siswa tersebut.
“ Coba setiap akan diadakan ulangan atau ujian kamu tidak usah belajar. Nanti dilihat apakah nilai kamu itu besar atau kecil. Kalau nilainya besar berarti belajar itu tidak penting, tapi kalau nilai kamu kecil berarti belajar itu penting. Tapi perlu diingat ketika nilai kecil dan mesti remedial atau tidak naik kelas, Saya tidak akan bertanggung jawab” Jawab Saya
“Ah, nggak ah” lanjut si Siswa
“ Kenapa?” Tanya Saya
“ Takut remedial atau nggak naik kelas Pak” Jawab Si Siswa
Terkadang kita tidak pernah mendengarkan atau merasa ragu atas nasihat yang baik. Padahal nasihat tersebut datang dari seseorang yang telah mengalami hal tersebut. Apakah kita mesti mengalami sesuatu hal terlebih dahulu baru kita menyakini dan mempercayai?
Mempercayai dan menyakini sesuatu hal dengan harus mengalami sesuatu tersebut terlebih dahulu memang ada betulnya juga, namun seberapa banyak waktu kita untuk mengalami trial and error untuk membuktikan satu kesimpulan yang jelas-jelas itu sudah terbukti benar dan telah dibuktikan oleh banyak orang.

DOA SI GARENG

Si GARENG ingin segera sukses, dia berdoa, Ya Tuhan., Jadikan aku orang yang cuma dengan kipas-kipas saja uang mendatangiku..! Jreeeng !!!...